KEMAMPUAN PEMAHAMAN
KONSEP MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD
Nina
Hepriani1, Kashardi2, dan Masri3
Program studi pendidikan matematika FKIP UMB
ABSTRAK
The
purpose of this research is
to look at the
activity of the students
and teachers as well as increasing the
ability of
understanding the
mathematical concepts of cooperative model was
implemented after the
type STAD. This type of research this
is a class
action research with the subject grade VIIID JUNIOR Country 27 Seluma. Data collection is done
using sheets
of observation
and tests. The data obtained were
analyzed in diskriptif. The
results showed that: (1) the average value of the activity of the teachers and
students in the 1st and 2nd cycle i.e. the activity of students and 85.7 75.55
and 97.6 and 100 teacher activity by category either. (2) the average value of
mathematical concept understanding ability classes increased from 49.4 to
become cooperative model so that 61.1 type STAD can improve the understanding
of the concept and activities of students and teachers.
Kata Kunci : Kooperatif tipe STAD, Kemampuan Pemahaman Konsep dan
Garis Singgung Lingkaran
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan yang terpenting bagi suatu
negara, pendidikan merupakan jembatan untuk kemakmuraan negara, dengan
pendidikan yang baik dapat mewujudkan cita-cita bangsa. Dalam pendidikan
terdapat ilmu matematika yang berperan penting dalam kehidupan
sehari-hari. “Matematika berasal dari
kata mathema artinya pengetahuan, mathein artinya berpikir atau belajar”
Depdiknas (dalam Hamzah dan Muhlisrarini, 2013). Matematika merupakan ilmu pendukung untuk
cabang-cabang ilmu yang lain, dan bahwa matematika dijuluki sebagai queen of sciences, ratunya para ilmu sekaligus juga pelayannya.
Matematika sebagai ratu atau ibunya ilmu dimaksudkan bahwa matematika adalah
sebagai sumber dari ilmu yang lain. Banyak ilmu-ilmu yang penemuan dan
pengembangannya bergantung dari matematika.
Karena sangat pentingnya ilmu matematika, maka bisa
dilihat dalam kurikulum bahwa matematika di sekolah-sekolah mempunyai jam
pelajaran lebih banyak dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain. Dengan
harapan siswa mendapat nilai yang baik diatas KKM untuk mata pelajaran
matematika yang dikenal dari dulu sangat
sulit, tetapi kenyataan yang ada bahwa masih sangat banyak siswa yang dibawah
standar KKM. Berdasarkan observasi awal, wawancara dengan guru matematika SMPN
27 Seluma bahwa masih sekitar 85% siswa dari jumlah siswa dikelas tersebut yang
masih mendapatkan nilai dibawah 68.
Adanya
kesenjangan dikarenakan masih banyak siswa yang tidak memahami konsep
matematika yang diajarkan, banyak siswa jika diberi soal yang berbeda dengan
contoh, maka siswa mengalami kesulitan menyelesaikannya. Walaupun sudah hafal
rumusnya jika tidak memahami konsepnya, maka akan sulit menyelesaikan soal
tersebut, masih banyaknya siswa yang
kurang menguasai materi-materi sebelumnya, sehingga menyebabkan siswa
mendapatkan hasil belajar akademik yang rendah misalnya pada materi garis
singgung lingkaran yang dianggap siswa mempunyai konsep yang sulit dipahami.
Di
SMPN 27 Seluma proses belajar mengajarnya masih menggunakan model pembelajaran
konvensional. Model pembelajar konvensional merupakan model pembelajaran
yang menggunakan motode ceramah,
menerapkan model konvensional di kelas ini ternyata masih belum mampu membuat
siswa memahami konsep matematika yang dipelajari sehingga masih banyak siswa
yang masih mendapatkan nilai rendah di bawah KKM, seperti yang dinyatakan oleh
Corno dan Snow (dalam Nofitasari, 2012 : 2) berpendapat, “berbagai hasil
penelitian mengatakan bahwa model pembelajaran konvensional belum mampu
menjadikan semua siswa di kelas bisa menguasai kompetensi minimal yang telah
ditetapkan, terutama siswa yang berkemampuan rendah”.
Sehingga
untuk mengatasi masalah ini diperlukan model yang mampu membuat siswa bisa
memahami konsep-konsep matematika, untuk memahami konsep matematika tersebut
diperlukan keaktifan, kefokusan, berpikir kritis dan berinteraksi. Maka, untuk
mencapai pemahaman konsep agar siswa mendapatkan hasil belajar akademik yang
baik diperlukan model pembelajaran yang sesuai, salah satunya adalah model
pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievment Divisions).
Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu cara dalam mengatasi masalah
ini, “beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa
memahami konsep-konsep yang sulit” (Rusman, 2013). Maka alasan pemilihan materi
garis singgung lingkaran adalah materi garis singgung lingkaran mempunyai
konsep yang dianggap sulit oleh siswa sehingga materi garis singgung lingkaran
sesuai digunakan untuk model kooperatif tipe STAD. Hal ini sejalan dengan Pendapat Widyantini (2008) yang
mengatakan bahwa garis singgung lingkaran merupakan salah satu materi yang
cocok digunakan untuk model kooperatif tipe STAD
dan selain itu, dipiilihnya materi garis singgung lingkaran adalah materi
ini merupakan salah satu materi yang sangat penting untuk dipelajari karena
berhubungan dengan bidang ilmu yang lain, misalnya bidang Ilmu Pengetahuan Alam
dan materi ini juga sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari.
Model pembelajaran kooperatif merupakan
model pembelajaran yang banyak digunakan dan menjadi perhatian serta dianjurkan
oleh para ahli pendidikan. Hal ini dikarenakan berdasarkan hasil penelitian
yang dilakukan oleh Slavin (dalam Rusman, 2013) dinyatakan bahwa :
1.
Penggunaan
pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan sekaligus
dapat meningkatkan hubungan sosial, menumbuhkan sikap toleransi dan menghargai
pendapat pendapat orang lain.
2.
Pembelajaran
kooperaif dapat memenuhi kebutuhan siswa dalam berpikir kritis, memecahkan
masalah dan mengintegrasikan pengetahuan dengan pengalaman.
Dipilihnya kooperatif tipe STAD karena merupakan “metode pembelajaran kooperatif yang paling
sederhana dan cenderung tidak membuat keributan, sehingga aktivitas siswa dapat
terarah dan fokus pada pembelajaran” (Putri, 2013 : 2), serta ”STAD
merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dan
merupakan model yang paling baik bagi guru yang baru menggunakan metode
kooperatif.
Berdasarkan uraian latar belakang, maka
akan dilaksanakan penelitian dengan judul “Meningkatkan Kemampuan Konsep
Matematika Siswa Melalui Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD pada Pokok Bahasan Garis Singgung
Lingkaran Kelas VIII SMPN 27 Seluma”.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian
tindakan kelas yang dilaksanakan di kelas VIIID SMP Negeri 27 Seluma. Prosedur
penelitian ini terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan
refleksi. Data dalam penelitian PTK ini merupakan data dari tes kemampuan pemahaman
konsep matematika,data aktivitas guru dan siswa serta semua yang terjadi pada
saat pelaksanan proses pembelajaran.
Alat pengumpulan data berupa lembar
observasi dan tes. Data akan dianalisis secara deskriptif yaitu berupa data
kuantitatif yang akan dideskripsikan. Maka untuk menganalisis data tersebut
dengan cara sebagai berikut :
1.
Perhitungan
nilai dari skor observasi aktivitas guru dan siswa
Untuk mengetahui nilai aktivitas guru menurut
Arikunto & Safruddin (dalam Kusumaningtyas, 2011) dapat dihitung dengan
rumus berikut :
X=
x
100
Ket :
X :
persentase skor observasi tiap pertemuan
a
:
jumlah skor yang diperoleh tiap pertemuan
b :
jumlah skor maksimal tiap pertemuan
Tabel 3.1 Skor Pengamatan Setiap Aspek Yang Diamati
Pada Lembar Observasi Guru
|
Kriteria
|
Skor
|
|
Baik (B)
Cukup (C)
Kurang (K)
|
3
2
1
|
(Sumber : Kusumaningtyas, 2011)
Selanjutnya
dihitung rata-rata persentase skor observasi tiap siklus lalu dikategorikan
sesuai dengan kualifikasi hasil persentase observasi yaitu sebagai berikut:
Tabel 3.2 Kualifikasi Hasil Persentasi Skor
Observasi
|
Kriteria
|
Skor
|
|
66,68
x
100
33,34
x
66,67
0
x
33,33
|
Baik
Cukup
Kurang
|
(Sumber
: Kusumaningtyas, 2011)
2.
Perhitungan
nilai dari skor tes kemampuan pemahaman konsep matematika
Untuk mengetahui nilai dari skor kemampuan pemahaman konsep matematika yang didapat tiap
siswa.
Menurut Arikunto & Safruddin (dalam Kusumaningtyas, 2011) digunakan rumus :
X=
x
100
Ket :
X = Persentase
skor jawaban benar siswa
a = Skor jawaban benar
b =
Skor maksimal yang mungkin dicapai
Selanjutnya
dihitung skor tes kemampuan pemahaman konsep tiap siklus dan dikategorikan
sesuai dengan kualifikasi hasil hasil tes yaitu sebagai berikut:
Tabel 3.4 Kualifikasi Hasil Tes
|
Kriteria
|
Skor
|
|
66,68
x
100
33,34
x
66,67
0
x
33,33
|
Baik
Cukup
Kurang
|
(Sumber
: Kusumaningtyas, 2011)
PEMBAHASAN
Berdasarkan
penelitian yang telah dilaksanakan maka di dapat hasil bahwa
1.
Proses pelaksanaan pembelajaran menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD sudah berjalan dengan baik.
2.
Aktivitas Guru dan Siswa
Setiap
siklus
menunjukkan bahwa aktivitas siswa dan guru mengalami adanya perubahan
yang membaik setiap siklus yang dilaksanakan terlihat
dari tabel berikut :
Tabel 4.2 Nilai
Hasil Aktivitas Siswa dan Guru
|
|
Pertemuan
|
Aktivitas Siswa
|
Rata-rata
|
Aktivitas Guru
|
Rata-rata
|
||
|
P1
|
P2
|
P1
|
P2
|
||||
|
Siklus
|
1
|
73.6
|
71.4
|
75.55
(baik)
|
95.23
|
100
|
97.6
(baik)
|
|
1
|
2
|
78.6
|
78.6
|
95.23
|
100
|
||
|
Siklus 2
|
1
|
78.6
|
78.6
|
85.7
(baik)
|
100
|
100
|
100
(baik)
|
|
2
|
95.23
|
90.47
|
100
|
100
|
|||
|
Jumlah
|
326.1
|
319.1
|
|
390.5
|
400
|
|
|
|
Rata-rata
|
81.5
|
79.7
|
|
97.6
|
100
|
||
|
Jumlah
|
161.2
|
|
197.6
|
||||
|
Rata-rata
|
80.6
|
|
98.8
|
||||
|
Kategori
|
Baik
|
|
Baik
|
||||
3.
Kemampuan
pemahaman konsep matematika
Meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematika
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD memberikan penghargaan kepada semua kelompok pada setiap
pertemuan. Maka didapat rekapitulasi penghargaan kelompok berdasarkan point
kemajuan individual sebagai berikut :
Penghargaan Kelompok
|
No
|
Nama
kelompok
|
Penghargaan
Kelompok
|
||
|
PK 1
|
PK 2
|
PK 3
|
||
|
1.
|
Aljabar
|
Super
|
Sangat Baik
|
Baik
|
|
2.
|
Geometri
|
Sangat Baik
|
Sangat Baik
|
Baik
|
|
3.
|
Trigonometri
|
Super
|
Super
|
Baik
|
|
4.
|
Statistika
|
Super
|
Sangat Baik
|
Baik
|
|
5.
|
Peluang
|
Super
|
Sangat Baik
|
Baik
|
|
6.
|
Phytagoras
|
Super
|
Sangat Baik
|
Baik
|
Penghargaan
kelompok yang diberikan membuat siswa mempunyai minat yang tinggi untuk belajar
mata pelajaran matematika pada pertemuan berikutnya. Minat yang dimiliki siswa
sangat penting dalam menunjang berhasilnya model pembelajaran kooperatif tipe STAD, ini sejalan dengan Windyanti
(2008) yang mengatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD akan terlaksana dengan baik, salah
satunya apabila Memilih
materi yang ada pada Standar Isi dengan melihat minat siswa. Maka dengan terlaksananya model pembelajaran
kooperatif tipe STAD, akan menunjang
pemahaman konsep siswa, sehingga berdasarkan penelitian yang sudah dilaksanakan
maka kemampuan pemahaman konsep matematika meningkat dari siklus 1 ke siklus
berikutnya melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Pada penelitian ini model pembelajaran kooperatif tipe STAD sudah sejalan dengan pendapat dari
Rusman (2013) yang menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD mampu membantu siswa memahami
konsep-konsep yang sulit terutama pada siswa yang berkemampuan rendah. Dan ini
dibuktikan dari peningkatan hasil tes siklus 1 ke siklus kedua. Berikut disajikan
grafik peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematika melalui model
pembelajaran kooperatif tipe STAD.
Gambar 4.3 Grafik Peningkatan Kemampuan
pemahaman konsep
KESIMPULAN DAN
SARAN
Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah
dilakukan dan pembahasan yang telah diuraikan, maka diperoleh kesimpulan adalah
sebagai berikut :
1.
Proses
pelaksanaan pembelajaran menggunakan langkah-langkah pada model pembelajaran
kooperatif tipe STAD pada pokok
bahasan garis singgung lingkaran sudah berjalan dengan baik.
2.
Aktivitas
guru dan siswa dapat meningkat dan sudah baik berdasarkan lembar observasi
aktivitas guru dan siswa yang sudah divalidasi.
3.
Pemahaman
konsep matematika di SMPN 27 Seluma mengalami peningkatan setelah dilaksanakan
pembelajaran dengan model kooperatif tipe STAD.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan
pembahasan, selama melaksanakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang telah dilakukan, peneliti
memberi masukan yang perlu dipertimbangkan oleh berbagai pihak yang berkaitan
dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD sebagai upaya meningkatkan kemampuan pemahaman konsep
matematika di kelas VIIID SMPN 27 Seluma yaitu :
1.
Kepada
siswa, agar siswa dapat mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk diterapkan pada materi-materi
pelajaran matematika yang karakteristiknya sama dengan yang diteliti untuk membantu meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa
2.
Kepada
guru, dapat menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk diterapkan pada materi-materi pelajaran matematika yang
karakteristiknya sama dengan yang diteliti untuk membantu meningkatkan
kemampuan pemahaman konsep matematika siswa
3.
Kepada
pihak sekolah, diharapkan untuk model pembelajaran kooperatif tipe STAD ini menjadi model pembelajaran
alternative yang bisa digunakan, karena model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan kemampuan
pemahaman konsep matematik.
4.
Kepada peneliti lain, dapat melakukan penelitian
lebih lanjut tentang model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada aspek lain selain kemampuan pemahaman konsep matematika
dan materi materi lain atau pada mata pelajaran lain.
DAFTAR PUSTAKA
Hamzah dan Muhlisrarini, 2013. Perencanaan dan Strategi Pembelajaran
Matematika. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Kusumaningtyas, I.H. 2011. Upaya Meningkatkan Pemahaman Konsep
Matematika melalui Pendekatan Problem Posing dengan Pembelajaran Kooperatif
tipe STAD pada Siswa Kelas Bilingual VIII C SMP N 1 Wonosari. Skripsi:
Universitas Negeri Yogyakarta.
Nofitasari, D. 2012. Meningkatkan Prestasi Belajar Matematia
Siswa Kelas VIIIB MTsN Ponorogo dengan Menggunakan Model Pembelajaran
Kooperatif tipe STAD 2012. Ponorogo : Universitas Muhammadiyah Ponorogo.
Putri, A.A. 2013. Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VII C
SMP Anggrek Banjarmasin melalui Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD dan
Scramble. Makalah dipresentasikan dalam seminar nasional matematika dan
pendidikan matematika dengan tema “penguatan peran matematika dan pendidikan
matematika untuk indonesia yang lebih baik” pada tanggal 9 november 2013 di
jurusan pendidikan matematika FMIPA UNY.
Rusman,
2013. Model –Model Pembelajaran.
Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Widyantini. 2008. Penerapan Pendekatan Kooperatif STAD dalam Pembelajaran Matematika SMP.
MGMP Matematika. Yogyakarta: Departemen Pendidikan Nasional