Kamis, 14 November 2019

CONTOH LAPORAN PENDIDIKAN MATEMATIKA

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Matematika adalah salah satu ilmu dasar yang banyak digunakan kalangan masyarakat. Namun, ironisnya sampai sekarang mata pelajaran matematika masih menjadi momok bagi siswa sehingga pelajaran matematika kurang disenangi dan dianggap pelajaran sulit. Banyak persepsi negatif yang timbul dari siswa jika ditanya pengalamannya saat belajar metematika, banyak siswa yang mengeluh bahwah matematika hanya membuat pusing dan stress. Siwa sering dihadapkan pada teori-teori yang tidak dimengerti hala ini dikarenakan cara membrikan konsep yang salah dari guru. Hal ini berakibat hasil belajar siswa menjadi rendah. Masalah ini perlu dipecahkan agar siswa dapat lebih mudah memahami konsep matematika sehingga hasil belajar siswa dapat lebih baik.
Peran guru  membuat proses belajar-mengajar efektif, efisien, dan kontinyu, dalam kaitan ini guru berperan sebagai agen informasi dan manajer dari sistem pemberdayaan siswa. Kerjasama yang harmonis antara guru dan siswa dalam kegiatan beajar mengajar akan memberikan hasil yang optimal. Untuk kegiatan belajar ini tentu saja diperlukan berbagai fasilitas pendukung yang memadai sebagi katalisator proses belajar.
Pada umumnya kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru pada siswa bersifat konvensional dengan menggunakan metode ceramah searah dan materi yang diajarkan hanya terfokus pada buku panduaan. Sehingga siswa tidak dapat mengembangkan pemikirannya tentang pelajaran matematika.
Pembelajaran Realistik Mathematics Education (RME), dipandang sangat berhasil untuk mengembangkan pengertian siswa, dengan menerapkan Realistik Mathematics Education ini siswa dapat belajar mengaitkannya dengan dunia nyata bahkan kalau perlu membawanya dalam bentuk permainan di luar kelas (out door mathematics).
Persegi merupakan salah satu bentuk bangun datar yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Pada saat Kegiatan Outdoor Matematika angkatan 2015 yang dilaksanakan pada tanggal 25 Januari 2015-1 Februari 2015 di Jakarta, Jogjakarta, Bali, dan Bandung ditemukan sebuah bingkai tulisan surat Aji yang terdapat di Kraton jogjakarta yang berbentuk persegi, bentuknya yang menarik sehingga penulis tertarik mengangkat bingkai tulisan Aji  yang berbentuk Persegi ke dalam makalah ini. Sehingga di buatlah makalah seminar pendidikan menggunakan Realistic Mathematics Education (RME) dalam pembelajaran matematika agar siswa dapat mempermudah siswa memahami konsep tabung, serta mengetahui bagaimana menerapkan RME dalam pembelajaran matematika bagaimana cara menghitung
B.     Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah seminar pendidikan matematika ini adalah untuk mengetahui cara menghitung luas dan volume tabung yang berbentuk bedug yang terdapat di kraton jogjakarta dengan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME)














BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.    Matematika realistik dalam pembelajaran matematika
1.      Pengertian matematika realistik (MR)
Matematika berasal dari kata “mathema” dalam bahasa yunani yang di artikan sebgai sains, pengetahuan atau belajar . disiplin utama dalam matematika di dasarkan pada kebutuhan dan perhitungan , pengukuranan  tanah , dan memprediksi peristiwa dalam astronomi. Ketiga pembagian umum bidang matematika yaitu studi tentang struktur, ruang, dan perubahan. Pembelajaran tentangstruktur yang sangat umum dimulai dalam bilangangbulat dan bilangan natural ,  serta operasi aritmatikanya, yang kesemuanya di jabarkan dalam aljabar dasar . sifat bilangan bulat yang lebih mendalam dipelajari dalam teori bilangan. Ilmu tentang ruang berawal dari perubahan pada kuantitas yang dapat adalah  suatu hal yang biasa dalam ilmu (sri maryati, 2006 : 11).
Dalam pembelajaran matematika selama ini, Dunia nyata hanya di jadikan tempat mengaplakasikan konsep . siswa mengalami kesulitan matematika di kelas. Akibatnya, siswa kurang menghayati atau memahami konsep matematika , dan siswa mengalami kesulitan untuk mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari hari. Salah satu pelajaran matematika yang berorietasi pada matematisasi pengalaman sehari hari (mathematize of everyday experience) dan menerapkan matematika dalam kehidupan sehari hari adalah pembelajaran matematika realistik (MR).
 matematika yang dimaksud dalam hal ini adalah matematika sekolah yang dilaksanakan dengan menempatkan realitas dan pengalaman siswa sebagai titik awal pembelajaran . masalah masalah realitas digunakan sebagai sumber munculnya konsep konsep matematika atau pengetahuan matematika formal. Pembelajaran matematika realistik dikelas berorientasi pada karakteristik RME, sehingga siswa mempunyai kesempatan untuk menemukan konsep konsep matematika dan siswa di berikan kesempatan untuk mengklasifikasikan konsep konsep matematika untuk memecahkan masalah sehari hari.
Karakter RME menggunakan : konteks dunia nyata , model model, produksi ddan konstruksi siswa, interaktif dan keterkaitan. (Van Heuvel-Panhuizen,1998).
2.      Karakteristik matematika realistik
Menurut treffers (dalam sri maryati : 2006) karakteristik matematika realistik adalah sebagai berikut :
a.       Menggunakan konteks nyata (the use of context) yang tidak hanya sebagai sumber matematisasi tetapi juga sebagai tempat untuk mengklasifikasikan kembali matematika. Pembelajaran matematika realistik di awali dengan masalah masalah yang nyata, sehingga siswa dapat menggunakan pengalaman sebelumnya secara langsung dan pengalaman itu sudah di pahami atau mudah di bayangkan oleh siswa.
b.      Menggunakan model model (matematisasi) istilah model ini berkaitan dengan model situasi dan model matematika yang di kembangkan oleh siswa sendiri . dan berperan sebagai jembatan bagi siswa dari situasi real ke situasi abstrak atau dari matematika informasi ke matematika formal. Artinya siswa membuat model sendiri dalam menyelasaikan masalah .
c.       Menggunakan produksi dan konstruksi steefland (1991), bahwa dengan pembuatan “produksi bebas” siswa terdorong untuk melakukan reflaksi pada bagian yang mereka anggap penting dalam proses belajar.
a.       Menggunakan interaktif. Interaktif antara siswa dengan guru merupakan hal uang mendasar dalam RME. Bentuk bentuk interaktif antara siswa dan guru biasanya berupa negosiasi, penjelasan, pembenaran , setuju, tidak setuju, pertanyaan atau reflaksi, digunakan untuk mencapai bentuk formal dari bentuk informasi siswa.
b.      Menggunakan keterkaitan dalam RME. Dalam pembelajaran ada keterkaitan dengan bidang yang lain, jadi kita harus memperhatikan juga bidang bidang yang lainnya karena akan berpengaruh pada pemecahan masalah.
3.      Teori belajar yang cocok dengan pembelajaran matematika realistik
Adapun beberapa teori belajar yang mendukung pembelajaran matematika realistik, antaranya : teori piaget, teori bruner, teori ausubel, dan teori  vygotsky.
A.    Teori piaget
Teori belajar kognitif yang dikenal adalah teori piaget. Piaget mengatakan pengengetahuan datang dari tindakan, dan sebagian besar perkembangan kognitif bergantung kepada seberapa jauh anak aktif memanipulasi dan aktif berinteraksi dengan lingkungannya.
Dalam pembelajaran, piaget menekankan pembelajaran melalui penemuan , pengamatan, pengalaman nyata dan manipulasi, langsung alat, bahan atau media belajar yang lain. Guru mempersiapkan lingkungan yang memungkinkan siswa dapat memperoleh pengalaman pengalaman belajar yang lebih luas. Dan perkembangan kognitif bukan merupakan akumulasi dan kepingan informasi terpisah, namun lebih merupakan pengklonstruksian suatu kerangka mental oleh siswa untuk memahi lingkungan mereka, sehingga siswa bebas membangun pemahaman mereka sendiri.
Slavin (dalam sri maryati : 2000) implikasi dari teori piaget dalam pembelajaran sebagai berikut :
a.       Memusatkan perhatian pada proses pemikiran anak, dan bukan sekedar hasiknya.
b.      Menekankan pada pentingnya peran siswa dalam berinisiatif sendiri dan keterlibatannya secara aktif pembelajaran. Dalam pembejaran di kelas pengetahuan jadi tidak mendapat penekanan melainkan anak di dorong menemukan sendiri melalui interaksi dengan lingkungan.
c.       Memahami adanya perbedaan individu dalam hal kemajuan perkembangan. Sehiingga  guru harus melakukan upaya khusus untuk mengatur kegiatan kelas dalam individu individu atau kelompok kelompok kecil.
Berdasarkan teori piaget, pembelajaran matematika realistik cocok dalam kegiatan pembelajaran karena pembelajaran matematika realistik memfokuskan pada proses berpikir siswa , bukan sekedar melihat hasil. Tetapi pembelajaran matemteka realistik ini mengutamakan peran siswa berinisiatif untuk menemukan jawaban dari masalah kontekstual yang di berikan guru dengan caranya sendiri dan siswa  didorong untuk terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran.
B.     Teori bruner
Bruner  menekankan bahwa setiap individu pada waktunya mengalami atau mengenal peristiwa ada di dalam lingkungannya dapat menemukan cara untuk menyatakan  kembali peristiwa tersebut di dalam pikirannya, yaitu suatu model mental tentang peristiwa yang di alaminya.
Hal tersebut adalah proses belajar yang terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu :
a.       Tahap enaktif atau tahapan kegiatan
Tahap pertama anak belajar konsep adalah berhubungan benda benda real atau mengalami peristiwa di lingkungan sekitarnya , artinya anak dalam gerak refleks, coba coba, memanifulasi, menyusun, dan menjejerkan.
b.      Tahap ikonik atau tahap gambar bayangan
Pada tahap ini, anak telah mengubah, menandai, dan menyimpan peristiwa dalam bentuk bayangan mental, artinya anak dapat membayangkan kembali atau memberikan gambaran dalam pikirannya tentang benda atau peristiwa di alaminya walaupun peristiwa itu telah berlalu atau tidak lagi berada di hadapannya.
c.       Tahap simbolik
Pada tahap ini, anak dapat mengutarakan bayangan mental tersebut dalam bentuk simbol dan bahasa serta dapat memahami dan menjelaskannya.
C.     Teori ausubel
Menurut ausubel belajar bermakna (meaningfull learning)adalah proses belajar dengan informasi baru yang akan di pelajari peserta didik di susun serta di hubungkan dengan struktur pengertian yang sudah di milikinya. Dengan belajar belajar bermakna siswa menjadi kuat ingatannya dan transfer belajar mudah di capai. Bejar bermakna dapat terjadi jika siswa berusaha menghubungkan informasi informasi baru ke dalam struktur pengetahuan mereka. Dalam proses ini siswa dapat mengembangkan skema yang sudah ada atau dapat mengubahnya sehingga dalam belajar  siswa mengkonstruksikan apa yang sedang di pelajarinya.
Bagi ausubel, menghapal berlawanan dengan belajar bermakna. Menghapal adalah mendapat informasi yang terisolasi sedemikian hingga peserta didik itu dapat mengaitkan informasi yang di peroleh ke dalam struktur kognitifnya. Selanjutnya peserta didik dapat mengendapkan pengetahuan yang di perolehnya.
Jadi  pembelajaran matematika realistik di awali dengan fenomena , kemudian siswa dengan bantuan guru di berikan kesempatan menemukan kembali dan mengkonstruksi konsep sendiri. Setelah itu, di aplikasikan dalam masalah sehari hari atau dalam bidang lain.
D.    Teori vygotsky
Menurut vygotsky aspek sosial pembelajaran sangat penting. Vygotsky percaya bahwa interaksi sosial dengan teman lain memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual siswa (slavin, 1994).
Aspek aspek sosial vygotsky yang berkembangan adalah konsep tentang zone of proximal develoment, menurut vygotsky siswa mempunyai dua tingkat perkembangan sebagai berikut :
a.       Tingkat perkembangan aktual adalah memfungsikan intelektual individu saat ini dan kemampuan untuk belajar sesuatu yang khusus atau kemampuannya sendiri.
b.      Tingkat perkembangan potensial adalah tingkat seseorang individu dapat memfungsikan atau mencapai suatu tingkat tertentu dengan bantuan orang lain , seperti guru , orang tua , atau teman sejawat yang kemampuannya lebih tinggi.
4.      Pembelajaran matematika realistik di sekolah
                               Pembelajaran matematika realistik merupakan teori belajar mengajar dalam pendidikan matematika. Teori pembelajaran matematika realistik pertama kali di perkenalkan dan kembangkan di belanda pada tahun 1970 oleh institut freudhental. Freudhental berpendapat bahwa matematika dengan realita dan matematika merupakan aktivitas manusia. Dari pendapat freudhental memang benar alangkah baiknya dalam pembelajaran harus ada hubungan dengan kenyataan dan kehidupan sehari hari. Oleh karena itu manusia harus di beri kesempatan untuk menemukan ide dan konsep matematika dengan bimbingan orang dewasa. Matematika harus dekat dengan anak dan kehidupan sehari hari. Upaya ini dilihat dari berbagai situasi dan persoalan persoalan “realistik”. Realistik ini tidak mengacu pada suatu yang dapat di bayangkan (sri maryati, 2006:16-17).
Menurut davis (dalam sri maryati, 2006 : 20), pandangan konstruktivis dalam pembelajaran matematika berorientasi pada ;
a.       Pengetahuan di bangun dalam pikiran melalui proses asimilasi atau akomodasi.
b.      Dalam pengerjaan matematika, setiap langkah di hadapkan pada apa
c.       Informasi baru harus di kaitkan dengan pengalamannya tentang dunia melalui suatu kerangka logis yang mentransformasikan, mengorganisasikan dan menginterprestasikan pengalamannya.
d.      Pusat pembelajaran adalah bagaimana siswa berpikir, bukan apa yang mereka katakan atau tulis.
Pendapat davis tersebut, dalam pembelajaran matematika siswa mempunyai pengetahuan dalam berpikir melalui proses akomodasi dan siswa juga dapat menyelesaikan masalah yang akan di hadapinya. Siswa mengetahui informasi baru dikaitkan dengan pengalaman sehari hari secara logis, dalam pembelajaran ini harus bisa memahami dan berpikir sendiri dalam menyelesaikan masalah tersebut, jadi tidak bergantung pada guru, siswa juga dapat mempunyai cara terendiri untuk menyelesaikan masalah.
Adapun menurut pandangan konstruktivis pembelajaran adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkonstruksi konsep konsep matematika dengan kemampuan sendiri melalui proses internalisasi. Guru dalam hal ini berperan sebagai fasilitator. Dalam pembelajaran matematika guru memang harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan sendiri konsep konsep matematika dengan kemampuan siswa dalam pembelajaran waupun siswa sendiri yang akan menemukan konsep konsep matematika, setidaknya guru harus terus mendampingi siswa dalam pembelajaran matematika.
Pembelajaran matematika realistik menggunakan masalah kontekstual (contekstual problem) sebagai tolak dalam belajar matematika. Perlu di cermati bahwa suatu hal yang bersifat kontekstual dalam lingkungan siswa di suatu daerah belum tentu bersifat konteks bagi siswa di daerah lain. Contoh berbicara tentang kereta api, merupakan hal yang konteks bagi siswa di luar jawa. Oleh karena itu pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik harus di sesuaikan dengan keadaan daerah tempat siswa berada.
5.      Prinsip pembelajaran matematika realistik
1.      Guided reinvention/progressive mathematizing (penemuan kembali  terbimbing/pematematikaan progresif)
Prinsip ini menghendaki bahwa dalam PMR , dari masalah kontekstual yang di berikan oleh guru di awal pembelajaran , kemudian dalam menyelesaikan masalah siswa di arahkan dan di beri bimbingan terbatas , sehingga siswa mengalami proses menemukan kembali konsep, prinsip, sifat sifat dan rumus rumus matematika sebagaimana ketika konsep , prinsip , sifat sifat dan rumus rumus matematika itu di temukan. Sebagai sumber inspirasi untuk merancang pembelajaran dengan pendekatan PMR yang menekankan prinsip penemuan kembali (re-invention), dan di gunakan sejarah penemuan konsep/prinsip/rumus matematika.
a.       Didactial phenomenology (fenomena pembelajaran)
Prinsip ini terkait dengan suatu gagasan fenomena pembelajaran , yang menghendaki bahwa di dalam menentukan suatu masalah kontekstual untuk di gunakan  dalam pembelajaran dengan pendekatan PMR, didasarkan atas dua alasan , yaitu :
b.      Untuk mengungkapkan berbagai macam aplikasi  suatu topik yang harus di antisipasi dalam pembelajaran , dan
c.       Untuk mempertimbangkan pantas tidaknya masalah kontekstual untuk digunakan sebagai poin poin untuk suatu proses pematematikaan progresip.
Dari uraian di atas menunjukan bahwa prinsip ke 2 PMR ini menekankan pada pentingnya masalah kontektual untuk memperkenalkan topik topik matematika kepada siswa. Hal itu dilakukan dengan  mempertimbangkan aspek kecocokan masalah kontekstual yang disajikan dengan :
a.       Topik topik  matematika yang di ajarkan , dan
b.      Konsep , prinsip  ,  rumus dan prosedur matematika yang akan ditemukan kembali oleh siswa dalam pembelajaran.
c.       Self develoved models (model model yang di bangun berfungsi sebagai jembatan antara pengetahuan informal dan matematika formal. Dalam menyelesaikan masalah kontekstual, siswa di beri kebebasan untuk membangun sendiri model matematika terkait dengan massalah kontekstual yang di pecahkan. Sebagai konsekuensi dari kebebasan itu sangat di mungkinkan muncul berbagai model yang di bangun siswa. Berbagai model tersebut  pada mulanya mungkin  masih mirip dengan masalah kontekstualnya. Ini merupakan langkah lanjutan dari re invention dan sekaligus menunjukkan bahwa sifat bottom up mulai terjadi. Model model tersebut di harapkan akan berubah dan mengarah bentuk matematikakkk formal. Dalam PMR  di harapkan terjadi urutan  pengembangan model belajar bottom up.
6.      Langkah langkah pembelajaran matematika realistik
Langkah langkah di dalam proses pembelajaran matematika dengan pendekatan PMR, sebagai berikut :
a.       Langkah pertama : memahami masalah kontekstual, yaitu guru memberikan masalah kontekstual dalam kehidupan sehari hari dan meminta siswa untuk memahami masalah tersebut.
b.      Langkah kedua : menjelaskan masalah kontekstual, yaitu jika dalam memahami masalah siswa mengalami kesulitan, maka guru menjelaskan situasi dan kondisi dari soal dengan dengan cara memberikan petunjuk petunjuk atau berupa saran seperlunya, terbatas pada bagian bagian tertentu dari permasalahan yang belum dipahami.
c.       Langkah ketiga : menyelesaikan masalah kontekstual, yaitu siswa secara individual menyelesaikan masalah kontekstual dengan cara mereka sendiri. Cara pemecahan dan jawaban masalah berbeda lebih di utamakan dengan menggunakan lembar kerja, siswa mengerjakan soal. Guru memotivasi siswa untuk menyelesaikan masalah dengan cara mereka sendiri
d.      Langkah ke empat : membandingkan dan mendiskusikan jawaban , yaitu menyediakan waktu dan kesempatan kepada siswa untuk membandingkan dan mendiskusikan jawaban masalah secara berkelompok. Siswa di latih mengeluarkan ide ide yang mereka miliki dalam kaitannya dengan interaksi siswa dalam proses belajar untuk mengoptimalkan pembelajaran.
e.       Langkah lima : menyimpulkan ,  yaitu guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menarik kesimpulan tentang suatu konsep atau prosedur.
7.      Kelebihan dan kerumitan penerapan pendekatan PMR
a.       PMR memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa tentang keterkaitan antara matematika dengan kehidupan sehari hari (kehidupan dunia nyata) dan kegunaan matematika pada umumnya bagi manusia.
b.      PMR memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa bahwa matematika adalah suatu bidang kajian yang di konstruksi dan di kembangkan sendiri oleh siswa tidak hanya oleh mereka yang di sebut pakat dalam bidang tersebut.
c.       PMR memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa bahwa cara penyelesaian suatu soal atau masalah tidak harus tunggal dan tidak harus sama antara orang yang satu dengan orang yang lain. Setiap orang bisa menemukan atau menggunakan cara sendiri, asal orang kitu bersungguh sungguh dalam mengerjakan soal atau masalah tersebut. Selanjutnya dengan membandingkan cara penyelesasian yang satu dengan cara menyeleesaian yang lain, akan bisa di peroleh cara penyelesaian yang paling tepat, sesuai dengan proses penyelesaian soal atau masalah tersebut.
d.      PMR memberikan pengertian yang jelas dan opersasional kepada siswa dalam mempelajari matematika, proses pembelajaran merupakan suatu yang utama dan mempempelajari matematiksa orang harus menjalani proses itu dan beruusaha  untuk menemjukan sendiri konsep konsep matematika, dengan bantuan pihak lain yang sudah  lebih tahu (misalnhya guru). Tanpa kemauan untuk menjalani sendiri prosess tersebut, pembelajaran yang bermakna tidak akan terjadi.
Sedangkan beberapa kerumitan dalam penerapan pendekatan PMR antara lain sebagai berikut :
a.       Upaya mengimplementasikan PMR membutuhkan perubahan pandangaan yang sangat mendasar mengeenai berbagai hal yng tidak mjudah untuk di praktekkan, misalnya mengenai siswa, bguru dan peranan soal koontekstual.  Di dalam PMR siswa tidak lagi di pandang sebagai pihask yang memppelajari segala sesuatu yang sudaah ‘jadi’, tetsapi sebagai pihak yyang aktif mengkonstruksi  konsep konsep matematikka. Guru dipandang lebih sebagai pendamping baagi siswa.
b.      Pencarian soal soal kontekstual yang memenuhui syarat syaratyang dituntut PMR tidak selalu mudah untuk setiap topik matematika yang perluh di pelajari siswaa, terlebih ,lagi karena soal soal tersebut hsarus bisa di selesesaikan dengan bermacaam macam cara.
c.       Upaya mendorong siswa agar bisaa menemukan berbagai cara untuk menyelesaikan soal, juga bukanlah hal yang mudah bagi seorang guru.
d.      Proses pengembangan kemampuan berpikir siswa melalui soal soal kontekstual, pproses pematemaatikaan horizontal daan proses pematematikaan vertikal juga bukkan merupakan suatu yang sederhana, karena proses dan mekanisme, berpikir siswa harus di ikuti dengan cermat, agar guru dapat membantu siswa dalam melakukan penemuan kembali terhadap konsep-konsep matematika tertentu










BAB III
PEMBAHASAN
Contoh Kasus
Contoh bedug yang terdapat di Keraton Jogjakarta yang langsung berhubungan dengan bentuk nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Dari gambar 2.1 diatas, kita bisa melihat bahwah bedug yang tedapat keraton Jogyakarta ini begitu uniknya bisa dijadikan sebuah objek matematika yang nyata. Pada bedug yang berbentu tabung yang terdapat di Keraton Jogjakarta diatas merupakan suatu objek nyata, maka kita dapat menghitung luas permukaan, luas selimut da volumenya dengan meteri Lingaran dan persegi panjang yang telah dibahas dalam materi sebelumnya.
A.    Sketsa Msnghitung Luas Pemukaan dan Volume Bedug yang Berbentuk Tabung
Untuk mmenghitung luas perukaan, luas selimut, dan volume bedug yang terdapat di Keraton Jogjakarta ini, terlebih dahulu harus membuat sketsa bangunan yang menjadi objek agar lebih memudahkan untuk memahami konsep bangunan itu sendiri.

 BAB III
PEMBAHASAN
A.    Deskripsi Hasil Penelitian
Saat melakukan outdoor matematika pada tanggal 25 januari – 1 februari mahasiswa juga melakukan perjalanan ke candi prambanan, di candi prambanan berjalan dari gerbang masuk candi perambanan kembali lagi ke titik awal tanpa mengulang melewati titik yang sudah di lalui, sehingga penulis menyadari jalan yang sudah di lewati ini merupakan contoh dari teori graph, dari mengelilingi jalan disekitar candi prambanan maka penulis mengambil obyek berupa peta jalan di sekitar candi prambanan tersebut yang ada di awal masuk menuju candi prambanan untuk di gunakan dalam mengetahui teori graph yang terdapat di peta tersebut secara lebih detil.
Gambar 1
Yang akan di jadikan obyek untuk mengetahui penerapan teori graf terdapat pada peta yang berada di dalam garis merah, sehingga peta tersebut dapat di gambar seperti ini

V        v6

N        v1

          v2

           v3

         v4

         v5

           v7

        v8

        e1

E       e2

           e3

E       e4

        e5

E         e6

E      e7

E      e8

        e9
 








Gambar 2




Gambar 2.2 diatas merupakan Sketsa bedug yang ada di Keraton Jogjakarta dengan menggunakan garis untuk mengetahui tinggi, diameter, jari-jari bedug.
Hasil sketsa dengan menggunakan garis seperti gambar 2.2 diatas membentuk bedug yang berbentuk tabung sehingga didapatlah :
t = tinggi bedug
r = jari-jari bedug
d = diameter bedug = 2r
B.     Mengukur Tinggi, Diameter, dan jari-jari Bedug yang berbentuk Tabung
Dengan menggunakan ukuran yang diperoleh langsung dari lapangan yaitu ukuran nyata untuk mencari hasil dari pengukuran yang akan ditentukan yaitu tinggi, diameter dan jari-jari yang berupa sketsa pendukung seperi terlihat pada ganbar 2.2 diatas, maka didapat ukuran bedug  yang diperoleh sebagai berikut :
Ø  Gambar 2.2 untuk ukuran tinggi bedug yang berbentuk tabung diperoleh dengan membentangkan kedua tangan pengamat sendiri didepan bedug yang ada di Keraton Yogyakarta. Apabila diukur dengan menggunakan mistar saat membentangkan kedua tangan penulis didapatlah ukuran tinggi bedug sepanjang 162 cm. Sedangkan ukuran diameter bedug penulis menggunakan tinggi badan untuk mengukur diameter bedug tersebut sehingga didaptlah diameter diameter bedug yaitu sepanjang lutut sampai dagu penulis. Apabila dengan menggunakan mistar dari lutut sampai bahu penulis didapatlah ukuran diameter bedug sepanjang 100 cm.
Ø  Dari gambar 2.2 (gambar bedug yang berbentuk tabung) setelah dilakukan pengukuran dilapangan penulis memperoleh ukuran bedug yang berbentuk tabung yaitu :
-          Tinggi bedug (t)                = 162 cm
-          Diameter bedug (d)           = 100 cm
-          Jari-jari bedug (r)               = 50 (d=2r)
Dari data-data yang kita dapat diatas akan mempermudah kita menentukan luas permukaan dn volume bedug yang berbentuk tabung di Keraton Yogyakarta.
C.     Menghitung Luas Permukaan Bedug yang Berbentuk Tabung di Keraton Yogjakarta
Rumus umum mencari luas permukaan tabung sama dengan jumlah dari luas alas ditambah luas tutup ditambah luas selimut tabung.

 










Luas seluruh tabung = luas alas + luas tutup + luas selimut
                                             = π r2 + π r2 + 2 π r t
                                             = 2 π r2 + 2 π r t
                                            = 2 π r ( r +t )
Maka untuk setiap tabung berlaku rumus : 2 π r ( r +t )
Keterangan r=jari-jari alas , t=tinggi dan π=3,14 atau
Dengan menggunakan data-data yang telah diperleh diatas, maka kita dapat mencari luas permukan bedug yang berbentuk tabung di Keraton Yogyakarta. Dari data-data yang diperoleh langsung dari lapangan didapatlah ukuran bedug yang berbentuk tabung yaitu :
-          Tinggi bedug (t)                = 162 cm
-          Diameter bedug (d)           = 100 cm
-          Jari-jari bedug (r)               = 50 (d=2r)
Setelah kita memperoleh ukuran bedug maka kita dapat menentukan luas permukaan bedug yang berbentuk tabung tersebut.
Contoh soal

mempunyai tinggi 162 cm dengan diameter 100 cm. Tentukan luas permukaan bedug yang terdapat di Keraton Yogyakarta tersebut ?
Jawab :
Diketahui : `    t = 162 cm
                                    d = 100 cm atau r = 50 cm
                                    π = 3,14
ditanya             = luas permukaan bedug tersebut ?
luas permukaan tabung           = 2 π r ( r +t )
                                                            = 2 x 3,14 x 50 (50 + 162)
                                                            = 2 x 3,14 x 50 (212)
                                                            = 314(212)
                                                            = 66.568 cm2
Jadi luas permukaan bedug yang berbentuk tabung yang terdapat di kraton jogjakarta tersebut adalah  66.568 cm2

D.    Menghitung Volume Bedug  yang Berbentuk Tabung di Keraton Yogyakarta









Rumus umum volume tabung sama dengan luas alas dikali tinggi tabung karena tabung memiliki alas berupa lingkaran maka volume tabung sama dengan luas alas (luas lingkaran) dikali tinggi.
Volume tabung = luas alas x tinggi
                                      = 2 π r2 t
Maka untuk setiap tabung berlaku rumus : 2 π r2 t
Keterangan r=jari-jari alas , t=tinggi dan π=3,14 atau
Dengan menggunakan data-data yang telah diperoleh, maka kita dapat mencari volume bedug yang berbentuk tabung di Keraton Yogyakarta.
 Dari data-data yang diperoleh langsung dari lapangan didapatlah ukuran bedug yang berbentuk tabung di Keraton Yogyakarta yatu :
-          Tinggi bedug (t)                = 162 cm
-          Diameter bedug (d)           = 100 cm
-          Jari-jari bedug (r)               = 50 (d=2r)
Contoh soal
Bedug yang berbentuk tabung yang terdapat di Keraton Yogyakarta diatas mempunyai tinggi 162 cm dengan diameter 100 cm. Tentukan volume bedug yang terdapat di Keraton Yogyakarta tersebut ?
Jawab :
Diketahui : `    t = 162 cm
                                    d = 100 cm atau r = 50 cm
                                    π = 3,14
ditanya             = volume bedug tersebut ?
volume tabung            = π r2 t
                                                = 3,14 x (50)22 x 162
                                                = 3,14 x 2.500 x 162
                                                = 127.170.000 cm3
Jadi, volume bedug yang berbentuk tabung yang terdapat di Keraton Yogyakarta tersebut adalah 127.170.000 cm3


























BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan uraian dari makalah diatas,maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
1.      Jaring-jaring tabung terdiri dari :
-          Selimut tabung berupa persegi panjang dengan panjang = keliling alas tabung (keliling lingkaran) = 2 π r (π=3,14 atau  
-          Dua buah lingkaran yang sama dan sebangun (kongruen) yang berjari-jari r
2.      Untuk setiap tabung berlaku rumus sebagai berikut :
Luas seluruh tabung    = luas alas + luas tutup + luas selimut
                                             = π r2 + π r2 + 2 π r t
                                             = 2 π r2 + 2 π r t
                                            = 2 π r ( r +t )
Volume tabung                       = luas alas x tinggi
                                                            = 2 π r2 t
Dengan v = volume
                         r = jari-jari
                         t = tinggi
dan nilai π=3,14 atau