Kamis, 08 Agustus 2019

KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD


KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD
Nina Hepriani1, Kashardi2, dan Masri3
Program studi pendidikan matematika FKIP UMB

ABSTRAK
The purpose of this research is to look at the activity of the students and teachers as well as increasing the ability of understanding the mathematical concepts of cooperative model was implemented after the type STAD. This type of research this is a class action research with the subject grade VIIID JUNIOR Country 27 Seluma. Data collection is done using sheets of observation and tests. The data obtained were analyzed in diskriptif. The results showed that: (1) the average value of the activity of the teachers and students in the 1st and 2nd cycle i.e. the activity of students and 85.7 75.55 and 97.6 and 100 teacher activity by category either. (2) the average value of mathematical concept understanding ability classes increased from 49.4 to become cooperative model so that 61.1 type STAD can improve the understanding of the concept and activities of students and teachers.

Kata Kunci : Kooperatif tipe STAD, Kemampuan Pemahaman Konsep dan Garis Singgung Lingkaran
PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan yang terpenting bagi suatu negara, pendidikan merupakan jembatan untuk kemakmuraan negara, dengan pendidikan yang baik dapat mewujudkan cita-cita bangsa. Dalam pendidikan terdapat ilmu matematika yang berperan penting dalam kehidupan sehari-hari.  “Matematika berasal dari kata mathema artinya pengetahuan, mathein artinya berpikir atau belajar” Depdiknas (dalam Hamzah dan Muhlisrarini, 2013).  Matematika merupakan ilmu pendukung untuk cabang-cabang ilmu yang lain, dan bahwa matematika  dijuluki sebagai queen of sciences, ratunya para ilmu sekaligus juga pelayannya. Matematika sebagai ratu atau ibunya ilmu dimaksudkan bahwa matematika adalah sebagai sumber dari ilmu yang lain. Banyak ilmu-ilmu yang penemuan dan pengembangannya bergantung dari matematika.
Karena sangat pentingnya ilmu matematika, maka bisa dilihat dalam kurikulum bahwa matematika di sekolah-sekolah mempunyai jam pelajaran lebih banyak dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain. Dengan harapan siswa mendapat nilai yang baik diatas KKM untuk mata pelajaran matematika  yang dikenal dari dulu sangat sulit, tetapi kenyataan yang ada bahwa masih sangat banyak siswa yang dibawah standar KKM. Berdasarkan observasi awal, wawancara dengan guru matematika SMPN 27 Seluma bahwa masih sekitar 85% siswa dari jumlah siswa dikelas tersebut yang masih mendapatkan nilai dibawah 68.
Adanya kesenjangan dikarenakan masih banyak siswa yang tidak memahami konsep matematika yang diajarkan, banyak siswa jika diberi soal yang berbeda dengan contoh, maka siswa mengalami kesulitan menyelesaikannya. Walaupun sudah hafal rumusnya jika tidak memahami konsepnya, maka akan sulit menyelesaikan soal tersebut,  masih banyaknya siswa yang kurang menguasai materi-materi sebelumnya, sehingga menyebabkan siswa mendapatkan hasil belajar akademik yang rendah misalnya pada materi garis singgung lingkaran yang dianggap siswa mempunyai konsep yang sulit dipahami.
Di SMPN 27 Seluma proses belajar mengajarnya masih menggunakan model pembelajaran konvensional. Model pembelajar konvensional merupakan model pembelajaran yang  menggunakan motode ceramah, menerapkan model konvensional di kelas ini ternyata masih belum mampu membuat siswa memahami konsep matematika yang dipelajari sehingga masih banyak siswa yang masih mendapatkan nilai rendah di bawah KKM, seperti yang dinyatakan oleh Corno dan Snow (dalam Nofitasari, 2012 : 2) berpendapat, “berbagai hasil penelitian mengatakan bahwa model pembelajaran konvensional belum mampu menjadikan semua siswa di kelas bisa menguasai kompetensi minimal yang telah ditetapkan, terutama siswa yang berkemampuan rendah”.
Sehingga untuk mengatasi masalah ini diperlukan model yang mampu membuat siswa bisa memahami konsep-konsep matematika, untuk memahami konsep matematika tersebut diperlukan keaktifan, kefokusan, berpikir kritis dan berinteraksi. Maka, untuk mencapai pemahaman konsep agar siswa mendapatkan hasil belajar akademik yang baik diperlukan model pembelajaran yang sesuai, salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievment Divisions). Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu cara dalam mengatasi masalah ini, “beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit” (Rusman, 2013). Maka alasan pemilihan materi garis singgung lingkaran adalah materi garis singgung lingkaran mempunyai konsep yang dianggap sulit oleh siswa sehingga materi garis singgung lingkaran sesuai digunakan untuk model kooperatif tipe STAD. Hal ini sejalan dengan Pendapat Widyantini (2008) yang mengatakan bahwa garis singgung lingkaran merupakan salah satu materi yang cocok digunakan untuk model kooperatif tipe STAD dan selain itu, dipiilihnya materi garis singgung lingkaran adalah materi ini merupakan salah satu materi yang sangat penting untuk dipelajari karena berhubungan dengan bidang ilmu yang lain, misalnya bidang Ilmu Pengetahuan Alam dan materi ini juga sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari.
Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang banyak digunakan dan menjadi perhatian serta dianjurkan oleh para ahli pendidikan. Hal ini dikarenakan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Slavin (dalam Rusman, 2013) dinyatakan bahwa :
1.      Penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan sekaligus dapat meningkatkan hubungan sosial, menumbuhkan sikap toleransi dan menghargai pendapat pendapat orang lain.
2.      Pembelajaran kooperaif dapat memenuhi kebutuhan siswa dalam berpikir kritis, memecahkan masalah dan mengintegrasikan pengetahuan dengan pengalaman.
Dipilihnya kooperatif tipe STAD karena merupakan “metode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dan cenderung tidak membuat keributan, sehingga aktivitas siswa dapat terarah dan fokus pada pembelajaran” (Putri, 2013 : 2), serta  STAD merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dan merupakan model yang paling baik bagi guru yang baru menggunakan metode kooperatif.
Berdasarkan uraian latar belakang, maka akan dilaksanakan penelitian dengan judul “Meningkatkan Kemampuan Konsep Matematika Siswa Melalui Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD pada Pokok Bahasan Garis Singgung Lingkaran Kelas VIII SMPN 27 Seluma”.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan di kelas VIIID SMP Negeri 27 Seluma. Prosedur penelitian ini terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Data dalam penelitian PTK ini merupakan data dari tes kemampuan pemahaman konsep matematika,data aktivitas guru dan siswa serta semua yang terjadi pada saat pelaksanan proses pembelajaran.
Alat pengumpulan data berupa lembar observasi dan tes. Data akan dianalisis secara deskriptif yaitu berupa data kuantitatif yang akan dideskripsikan. Maka untuk menganalisis data tersebut dengan cara sebagai berikut :
1.      Perhitungan nilai dari skor observasi aktivitas guru dan siswa
Untuk mengetahui nilai aktivitas guru menurut Arikunto & Safruddin (dalam Kusumaningtyas, 2011) dapat dihitung dengan rumus berikut :
X=  x 100
Ket :
X : persentase skor observasi tiap pertemuan
a : jumlah skor yang diperoleh tiap pertemuan
b : jumlah skor maksimal tiap pertemuan

Tabel 3.1 Skor Pengamatan Setiap Aspek Yang Diamati Pada Lembar Observasi Guru
Kriteria
Skor
Baik (B)
Cukup (C)
Kurang (K)
3
2
1
(Sumber : Kusumaningtyas, 2011)


Selanjutnya dihitung rata-rata persentase skor observasi tiap siklus lalu dikategorikan sesuai dengan kualifikasi hasil persentase observasi yaitu sebagai berikut:

Tabel 3.2 Kualifikasi Hasil Persentasi Skor Observasi
Kriteria
Skor
66,68  x  100
33,34  x  66,67
0  x  33,33
Baik
Cukup
Kurang
(Sumber : Kusumaningtyas, 2011)

2.      Perhitungan nilai dari skor tes kemampuan pemahaman konsep matematika
Untuk mengetahui nilai dari skor kemampuan pemahaman konsep matematika yang didapat tiap siswa. Menurut Arikunto & Safruddin (dalam Kusumaningtyas, 2011) digunakan rumus :
X=  x 100             
Ket :
X  = Persentase skor jawaban benar siswa
a  = Skor jawaban benar
b = Skor maksimal yang mungkin dicapai
Selanjutnya dihitung skor tes kemampuan pemahaman konsep tiap siklus dan dikategorikan sesuai dengan kualifikasi hasil hasil tes yaitu sebagai berikut:



Tabel 3.4 Kualifikasi Hasil Tes
Kriteria
Skor
66,68  x  100
33,34  x  66,67
0  x  33,33
Baik
Cukup
Kurang
(Sumber : Kusumaningtyas, 2011)

PEMBAHASAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan maka di dapat hasil bahwa
1.       Proses pelaksanaan pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD sudah berjalan dengan baik.
2.       Aktivitas Guru dan Siswa
Setiap siklus menunjukkan bahwa aktivitas siswa dan guru mengalami adanya perubahan yang membaik setiap siklus yang dilaksanakan terlihat dari tabel berikut :

Tabel 4.2 Nilai Hasil Aktivitas Siswa dan Guru

Pertemuan
Aktivitas Siswa
Rata-rata
Aktivitas Guru
Rata-rata
P1
P2
P1
P2
Siklus
1
73.6
71.4
75.55
(baik)
95.23
100
97.6
(baik)
1
2
78.6
78.6
95.23
100
Siklus 2
1
78.6
78.6
85.7
(baik)
100
100
100
(baik)
2
95.23
90.47
100
100
Jumlah
326.1
319.1

390.5
400

Rata-rata
81.5
79.7

97.6
100
Jumlah
161.2

197.6
Rata-rata
80.6

98.8
Kategori
Baik

Baik


3.      Kemampuan pemahaman konsep matematika
Meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematika menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD memberikan penghargaan kepada semua kelompok pada setiap pertemuan. Maka didapat rekapitulasi penghargaan kelompok berdasarkan point kemajuan individual sebagai berikut :


Penghargaan Kelompok
No
Nama kelompok
Penghargaan Kelompok
PK 1
PK 2
PK 3
1.
Aljabar
Super
Sangat Baik
Baik
2.
Geometri
Sangat Baik
Sangat Baik
Baik
3.
Trigonometri
Super
Super
Baik
4.
Statistika
Super
Sangat Baik
Baik
5.
Peluang
Super
Sangat Baik
Baik
6.
Phytagoras
Super
Sangat Baik
Baik


Penghargaan kelompok yang diberikan membuat siswa mempunyai minat yang tinggi untuk belajar mata pelajaran matematika pada pertemuan berikutnya. Minat yang dimiliki siswa sangat penting dalam menunjang berhasilnya model pembelajaran kooperatif tipe STAD, ini sejalan dengan Windyanti (2008) yang mengatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD akan terlaksana dengan baik, salah satunya apabila Memilih materi yang ada pada Standar Isi dengan melihat minat siswa. Maka dengan terlaksananya model pembelajaran kooperatif tipe STAD, akan menunjang pemahaman konsep siswa, sehingga berdasarkan penelitian yang sudah dilaksanakan maka kemampuan pemahaman konsep matematika meningkat dari siklus 1 ke siklus berikutnya melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Pada penelitian ini model pembelajaran kooperatif tipe STAD sudah sejalan dengan pendapat dari Rusman (2013) yang menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD mampu membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit terutama pada siswa yang berkemampuan rendah. Dan ini dibuktikan dari peningkatan hasil tes siklus 1 ke siklus kedua. Berikut disajikan grafik peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematika melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Gambar 4.3 Grafik Peningkatan Kemampuan pemahaman konsep

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dan pembahasan yang telah diuraikan, maka diperoleh kesimpulan adalah sebagai berikut :
1.      Proses pelaksanaan pembelajaran menggunakan langkah-langkah pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada pokok bahasan garis singgung lingkaran sudah berjalan dengan baik.
2.      Aktivitas guru dan siswa dapat meningkat dan sudah baik berdasarkan lembar observasi aktivitas guru dan siswa yang sudah divalidasi.
3.      Pemahaman konsep matematika di SMPN 27 Seluma mengalami peningkatan setelah dilaksanakan pembelajaran dengan model kooperatif tipe STAD.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, selama melaksanakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang telah dilakukan, peneliti memberi masukan yang perlu dipertimbangkan oleh berbagai pihak yang berkaitan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD sebagai upaya meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematika di kelas VIIID SMPN 27 Seluma yaitu :
1.      Kepada siswa, agar siswa dapat mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk diterapkan pada materi-materi pelajaran matematika yang karakteristiknya sama dengan yang diteliti untuk  membantu meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa
2.      Kepada guru, dapat menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk diterapkan pada materi-materi pelajaran matematika yang karakteristiknya sama dengan yang diteliti untuk membantu meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa
3.      Kepada pihak sekolah, diharapkan untuk model pembelajaran kooperatif tipe STAD ini menjadi model pembelajaran alternative yang bisa digunakan, karena model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematik.
4.      Kepada peneliti lain, dapat melakukan penelitian lebih lanjut tentang model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada aspek lain selain kemampuan pemahaman konsep matematika dan materi materi lain atau pada mata pelajaran lain.
DAFTAR PUSTAKA
Hamzah dan Muhlisrarini, 2013. Perencanaan dan Strategi Pembelajaran Matematika. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Kusumaningtyas, I.H. 2011. Upaya Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematika melalui Pendekatan Problem Posing dengan Pembelajaran Kooperatif tipe STAD pada Siswa Kelas Bilingual VIII C SMP N 1 Wonosari. Skripsi: Universitas Negeri Yogyakarta.
Nofitasari, D. 2012. Meningkatkan Prestasi Belajar Matematia Siswa Kelas VIIIB MTsN Ponorogo dengan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD 2012. Ponorogo : Universitas Muhammadiyah Ponorogo.
Putri, A.A. 2013. Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VII C SMP Anggrek Banjarmasin melalui Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD dan Scramble. Makalah dipresentasikan dalam seminar nasional matematika dan pendidikan matematika dengan tema “penguatan peran matematika dan pendidikan matematika untuk indonesia yang lebih baik” pada tanggal 9 november 2013 di jurusan pendidikan matematika FMIPA UNY.
Rusman, 2013. Model –Model Pembelajaran. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Widyantini. 2008. Penerapan Pendekatan Kooperatif STAD dalam Pembelajaran Matematika SMP. MGMP Matematika. Yogyakarta: Departemen Pendidikan Nasional


Tidak ada komentar: